Banjir Bandang Rusak Belasan Rumah di Parigi Moutong

Banjir bandang menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Rabu dini hari. Bencana tersebut mengakibatkan sejumlah rumah warga rusak dan puluhan keluarga terdampak.

Plt Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai mengatakan, berdasarkan pendataan sementara, sekitar 68 kepala keluarga terdampak akibat banjir bandang tersebut.

“Data sementara kurang lebih 68 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir bandang,” kata Pelaksanaan tugas (Plt) Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai dihubungi dari Palu, Rabu.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 01.00 Wita setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Parigi Moutong. Kondisi itu menyebabkan debit air sungai meningkat hingga meluap ke kawasan permukiman warga.

Material lumpur yang terbawa banjir juga menutup badan jalan sepanjang kurang lebih 500 meter. Kondisi tersebut menyebabkan arus kendaraan di Jalan Trans Sulawesi yang melintasi Desa Avolua mengalami kemacetan.

Petugas gabungan kemudian melakukan penanganan di lokasi untuk mengatasi kondisi darurat serta membuka kembali akses jalan yang terdampak material lumpur.

Sebanyak 12 kepala keluarga harus mengungsi setelah rumah mereka mengalami kerusakan dan tertimbun lumpur akibat banjir bandang.

“Saat ini sekitar 12 KK terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak dan tertimbun lumpur,” ujarnya.

Hasil kaji cepat yang dilakukan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Parigi Moutong mencatat sedikitnya 12 rumah mengalami kerusakan. Selain itu, material lumpur merendam sekitar 50 rumah warga. Pagar sebuah pabrik durian juga mengalami kerusakan, sementara badan jalan tertutup lumpur hingga sekitar 500 meter.

BPBD menyatakan tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, sekitar 103 jiwa tercatat terdampak banjir bandang.

“Tidak ada korban jiwa dari peristiwa itu. Kurang lebih 103 jiwa terdampak. Saat ini pemerintah daerah terus berupaya melakukan penanganan darurat,” ucap Rivai.

Proses pendataan masih dilakukan oleh TRC untuk mengetahui dampak bencana terhadap fasilitas umum, lahan pertanian, sektor perikanan, serta masyarakat yang terdampak. BPBD mengingatkan bahwa jumlah dan tingkat kerusakan masih dapat berubah seiring perkembangan kondisi di lapangan.

Pemerintah daerah juga menyiapkan penanganan lanjutan dengan memprioritaskan kebutuhan mendesak masyarakat terdampak. Bantuan yang diperlukan antara lain air bersih, makanan siap saji, tenda pengungsian, normalisasi sungai, serta pembersihan rumah warga dari material lumpur.

Penanganan bencana di lokasi melibatkan personel BPBD bersama TNI dan Polri, aparat desa, serta masyarakat setempat. Dukungan dari relawan juga terbuka untuk membantu proses penanganan apabila diperlukan.

“Saat ini penanganan di lapangan dibantu personel BPBD, TNI/Polri, aparat desa dan warga setempat, tidak menutup kemungkinan ada relawan masuk ikut membantu,” kata dia.