Revitalisasi 113 Sekolah di Lhokseumawe Capai 50 Persen
Revitalisasi 113 sekolah yang terdampak banjir besar pada penghujung 2025 di Kota Lhokseumawe, Aceh, telah mencapai progres fisik sekitar 50 persen. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Yuswardi, menyampaikan bahwa perkembangan pekerjaan berdasarkan laporan konsultan telah mencapai separuh dari keseluruhan pekerjaan. Sementara itu, penyerapan anggaran untuk proyek tersebut telah berada di kisaran 70 persen.
“Revitalisasi sekolah ini merupakan salah satu dari rehab rekon pascabencana, dan pengerjaan ini meliputi bagian fisik bangunan, baik itu ruangan sekolah, laboratorium, mandi cuci kakus (MCK), hingga mobiler sekolah,” kata Yuswardi, Rabu, 26 Agustus 2026.
Program tersebut mencakup 113 satuan pendidikan dengan pembagian 38 sekolah PAUD/TK negeri dan swasta yang mendapat dukungan anggaran Rp17,6 miliar. Selanjutnya, 59 Sekolah Dasar (SD) memperoleh anggaran Rp45 miliar, sedangkan 16 Sekolah Menengah Pertama (SMP) mendapatkan alokasi Rp35,5 miliar.
Pelaksanaan revitalisasi dimulai pada April 2026. Dalam prosesnya, sejumlah sekolah menghadapi hambatan akibat keterbatasan pasokan material, khususnya semen. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga material dan berpengaruh terhadap durasi pekerjaan di beberapa lokasi.
“Akibatnya terdapat sekolah yang harus melakukan adendum ataupun penambahan hari kerja,” ujarnya.
Yuswardi menjelaskan bahwa dana revitalisasi diberikan langsung kepada masing-masing sekolah yang menjadi penerima program. Durasi pelaksanaan pekerjaan kemudian ditentukan berdasarkan nilai anggaran yang diterima oleh setiap sekolah.
Sekolah dengan alokasi anggaran di atas Rp1 miliar memperoleh waktu pengerjaan sekitar 150 hari. Sementara sekolah yang menerima anggaran kurang dari Rp1 miliar memiliki waktu pelaksanaan sekitar 120 hari.
Pemerintah daerah berharap seluruh proyek dapat diselesaikan pada tahun 2026. Dengan demikian, fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan akibat banjir dapat kembali digunakan dan mendukung kegiatan belajar mengajar secara optimal.
“Mudah-mudahan revitalisasi sekolah ini bisa selesai tahun ini dan proses belajar mengajar tetap berjalan lancar,” pungkasnya.

