10 Gempa Besar yang Pernah Mengguncang Indonesia

Flores, Pendeteksi Longsor – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) dini hari. Hingga Sabtu siang, bencana tersebut dilaporkan telah menyebabkan 33 orang meninggal dunia dan 23 lainnya mengalami luka-luka.

Jumlah korban masih berpotensi bertambah mengingat pencarian, evakuasi, serta pendataan di berbagai lokasi terdampak masih dilakukan. Peristiwa tersebut sekaligus menambah daftar gempa bumi berkekuatan besar yang pernah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan serius di Indonesia.

Gempa berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer. Besarnya guncangan sempat membuat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Peringatan tersebut kemudian dicabut beberapa jam setelah gempa terjadi.

Gempa Aceh pada 26 Desember 2004 tercatat sebagai salah satu gempa dengan kekuatan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia dalam satu abad terakhir. Gempa tersebut mencapai magnitudo 9,3 dan memicu tsunami dahsyat yang menerjang kawasan pesisir Aceh. Ketinggian gelombang dilaporkan mencapai sekitar 30 meter. Bencana ini menyebabkan lebih dari 131.000 orang meninggal dunia, sementara sekitar 37.000 orang lainnya dinyatakan hilang.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya 28 Maret 2005, gempa berkekuatan magnitudo 8,6 mengguncang Pulau Nias, Sumatera Utara. Gempa tersebut terjadi tidak lama setelah tragedi gempa dan tsunami Aceh sehingga kembali menimbulkan kerusakan besar di kawasan Sumatera. Sekitar 1.300 orang dilaporkan meninggal dunia dan berbagai bangunan serta infrastruktur mengalami kerusakan.

Pada 11 April 2012, wilayah Sumatera kembali diguncang gempa dengan kekuatan magnitudo 8,5. Meski tergolong sangat besar, jumlah korban jiwa dalam peristiwa tersebut relatif lebih sedikit dibandingkan beberapa gempa lainnya. Gempa ini tercatat menyebabkan lima orang meninggal dunia, satu orang kritis, dan enam orang lainnya mengalami luka-luka.

Jauh sebelumnya, kawasan Banda dan Kepulauan Kai mengalami gempa berkekuatan magnitudo 8,5 pada 2 Februari 1938. Peristiwa tersebut termasuk salah satu gempa dengan magnitudo terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah kegempaan Indonesia.

Gempa berkekuatan magnitudo 8,0 juga pernah mengguncang kawasan Pulau Sunda pada 19 Agustus 1977. Gempa tersebut disertai tsunami yang menimbulkan dampak besar. Sebanyak 2.200 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Sulawesi Utara juga pernah mengalami gempa kuat pada 14 Agustus 1968. Gempa berkekuatan magnitudo 7,8 tersebut menyebabkan kerusakan terhadap sejumlah bangunan dan infrastruktur. Bencana itu dilaporkan menewaskan 392 orang.

Sementara itu, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,8 pada 2 Maret 2016. Meski memiliki kekuatan besar, gempa tersebut berdasarkan laporan BNPB tidak menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan bangunan. Peringatan tsunami yang sempat diberlakukan untuk sejumlah wilayah juga dicabut setelah situasi dinyatakan aman.

Gempa Flores pada 15 Agustus 2026 menjadi salah satu peristiwa terbaru dalam catatan gempa besar di Indonesia. Dengan kekuatan magnitudo 7,7, gempa yang terjadi pada dini hari tersebut telah menewaskan 33 orang dan menyebabkan 23 orang lainnya terluka hingga Sabtu siang. Proses pencarian dan evakuasi masih dilakukan, sementara peringatan dini tsunami yang sebelumnya dikeluarkan BMKG telah dicabut beberapa jam setelah gempa.

Sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pangandaran, Jawa Barat, pada 17 Juli 2006. Gempa tersebut kemudian diikuti tsunami yang menerjang sejumlah kawasan pesisir. Gelombang tsunami dilaporkan mencapai sekitar 12 meter. Berdasarkan data WHO, bencana tersebut menyebabkan 668 orang meninggal dunia, 65 orang hilang, serta 9.299 orang mengalami luka-luka.

Gempa besar lainnya terjadi di Padang dan sejumlah wilayah Sumatera Barat pada 30 September 2009. Gempa berkekuatan magnitudo 7,6 tersebut menyebabkan kerusakan pada bangunan dan infrastruktur di sejumlah daerah, termasuk Padang Pariaman, Kota Padang, hingga Pasaman Barat. Bencana tersebut tercatat menewaskan sekitar 1.117 orang.