Emisi Karbon China Mulai Menurun

Emisi karbon dioksida China mulai menunjukkan penurunan seiring berkurangnya konsumsi bahan bakar minyak sejak perang Iran. Analisis terbaru menunjukkan perubahan struktural menuju elektrifikasi dan transportasi yang lebih bersih mulai menciptakan kondisi bagi penurunan emisi yang berkelanjutan.

Berdasarkan analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) untuk Carbon Brief, emisi karbon dioksida China turun 1 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Penurunan tersebut terutama didorong oleh konsumsi minyak yang merosot 9 persen karena masyarakat mulai memilih moda transportasi yang lebih bersih sekaligus lebih murah.

“The rise in oil prices has caused a ​stronger shift in China’s transportation sector than anyone anticipated, with EV deployment and use accelerating from an already ⁠high base,” the analysis said. “This trend is unlikely to be reversed.”

Kendaraan listrik menjadi salah satu faktor utama perubahan tersebut. Pada paruh pertama 2026, penggunaan kendaraan listrik telah menggantikan konsumsi sekitar 36 juta ton minyak. Jumlah itu lebih besar dibandingkan total konsumsi minyak Inggris selama enam bulan dan menyumbang sekitar sepertiga dari penurunan permintaan minyak China.

“The shift to electric ​vehicles, rail public transportation and other clean transportation, rather than a fall in mobility, played the key role in reducing oil consumption,” the report said.

Penggantian konsumsi minyak oleh kendaraan listrik juga meningkat tajam pada kuartal II. Kendaraan listrik menggantikan sekitar 19 juta metrik ton minyak, atau meningkat 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Truk listrik menjadi sumber pengurangan konsumsi minyak dengan pertumbuhan paling cepat. Penggunaan bahan bakar alternatif pada sektor truk melonjak 90 persen selama periode Januari hingga Juni 2026.

China sebelumnya juga pernah mencatat penurunan emisi. CREA mencatat emisi negara tersebut turun 0,3 persen pada 2025, yang menjadi penurunan tahunan pertama sejak 2022. Namun, kuartal II 2026 menjadi periode pertama ketika penurunan konsumsi minyak, bukan batu bara, menjadi faktor utama yang mendorong turunnya emisi.

Penurunan tersebut terjadi meskipun emisi dari sektor kelistrikan justru meningkat 3 persen karena penggunaan batu bara oleh industri bertambah.

China saat ini merupakan negara dengan emisi karbon dioksida terbesar di dunia. Negara tersebut juga memainkan peran penting dalam diplomasi iklim setelah Amerika Serikat, yang menjadi penghasil emisi terbesar kedua saat ini namun memiliki emisi historis terbesar, kembali meninggalkan Perjanjian Paris yang bertujuan membatasi pemanasan global.

CREA memperkirakan berkurangnya konsumsi minyak membantu China menghindari sekitar 35 juta ton emisi karbon dioksida pada kuartal II 2026. Jumlah tersebut setara dengan 1,3 persen dari total emisi pada periode tersebut setelah memperhitungkan emisi yang berasal dari pengisian daya kendaraan listrik.

Selain perubahan pada sektor transportasi, perlambatan pertumbuhan industri kimia serta peralihan pada sektor konstruksi dan pertambangan turut berkontribusi terhadap penurunan permintaan minyak. Sejumlah peralatan berbahan bakar diesel mulai digantikan dengan perangkat yang menggunakan tenaga listrik.

Secara keseluruhan, emisi China masih sedikit meningkat pada paruh pertama 2026. Periode tersebut mencakup dua bulan sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari, yang kemudian mendorong kenaikan harga minyak mentah sekaligus menekan konsumsi minyak China.

Namun, CREA memperkirakan emisi China berpotensi turun secara keseluruhan sepanjang 2026. Penurunan permintaan minyak, perlambatan sektor properti, serta pertumbuhan industri batu bara menjadi bahan kimia yang lebih lambat menjadi sejumlah faktor pendukung.

Industri batu bara menjadi bahan kimia memang mengalami peningkatan keuntungan setelah blokade Selat Hormuz mengganggu sektor petrokimia. Namun, tingkat produksinya telah berada mendekati kapasitas penuh sehingga ruang untuk meningkatkan output lebih lanjut dinilai terbatas.

Sementara itu, kenaikan emisi dari sektor kelistrikan berpeluang berbalik pada paruh kedua 2026. Kondisi tersebut dapat terjadi apabila China mampu mengurangi pembatasan atau pemborosan energi terbarukan di jaringan listrik dan kondisi angin membaik.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola konsumsi energi, khususnya peralihan dari bahan bakar minyak menuju kendaraan listrik dan transportasi bersih, mulai memberikan pengaruh nyata terhadap emisi China. Jika tren tersebut berlanjut, penurunan emisi berpotensi semakin terlihat hingga akhir 2026.